Pesan Produk Sekarang

Komunitas Sahabat Anak Rangkul Anak Jalanan Usia Sekolah -world community

7
JAKARTA– Pengurus Yayasan Komunitas Sahabat Anak Alles Saragi di Jakarta,
mengatakan anak jalanan harus mendapat pendidikan yang layak supaya mereka memiliki harapan agar bisa mencapai masa depan yang lebih baik.
Banyak anak jalanan putus sekolah, bahkan tidak bisa membaca, menulis dan berhitung. “Banyak anak jalanan tidak dapat melanjutkan ke sekolah formal setelah putus sekolah. Di yayasan ini mereka berkesempatan mendapatkan pendidikan informal,” kata Alles.
Menurut dia, anak jalanan yang putus sekolah diajarkan kemampuan dasar yang sama dengan yang diperoleh anak-anak beruntung lainnya di sekolah formal seperti baca, menulis dan berhitung. Bagi anak jalanan yang masih bersekolah, mereka dibimbing dalam mengerjakan pekerjaan rumah, persiapan ujian dan mengulang pelajaran.
“Bagi anak jalanan yang putus sekolah, kami mendirikan Pusat Kegiatan Anak (PKA), yaitu sekolah nonformal yang membekali mereka dengan pelajaran umum, pengembangan karakter, serta keterampilan,” kata Alles.
Alles berpendapat, pembekalan keterampilan dan pengembangan karakter berguna untuk menaikkan rasa percaya diri serta sebagai modal masa depan mereka. “Anak-anak juga diberikan pelajaran keterampilan desain grafis, servis pendingin ruangan, terapi, memasak dan tata rias. Kami baru saja membuka usaha reparasi pendingin ruangan yang menjadi wadah untuk menjalankan keterampilan mereka.

 Bukan pemandangan aneh jika hampir setiap lampu merah di Jakarta dihiasi dengan anak-anak kecil berkeliaran merajai jalanan tanpa pengawasan orangtua. Kota metropolitan sebesar ini menyimpan banyak kisah dari mereka yang mempertahankan hidup dengan mengamen, meminta-minta, bahkan mencopet.

Tampaknya, di balik gedung-gedung megah yang menjulang tinggi, Jakarta bukan tempat yang ramah bagi mereka. Umurnya hanya berkisar 5-17 tahun, bahkan ada yang lebih muda lagi. Bermodalkan rasa kasihan dari penumpang bis kota, pengendara mobil pribadi atau siapa pun yang mereka temui, mereka berusaha mendapatkan hidup yang lebih baik.

Isu tentang anak jalanan dan masyarakat miskin memang seakan tiada habisnya, namun apakah dalam praktiknya masih adakah orang yang tulus bekerja sebagai relawan untuk mereka?

Savestreetchild adalah sebuah komunitas yang mengajak tangan-tangan independen untuk membantu dan merangkul berbagai lembaga tempat bernaungnya anak jalanan — yang kebanyakan telah mati suri karena kehilangan donatur, relawan serta ide untuk berkembang.

Savestreetchild telah memperluas jaringan di Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, Bandung, Jogja, Depok, Manado, dan Padang.

Masalah yang ditemui oleh Savestreetchild tak hanya seputar integritas komunitas, ketersediaan relawan dan pencarian dana. Justru, komunitas ini mengaku dengan adanya bantuan media sosial seperti Twitter dapat memudahkan penyebaran informasi kegiatan sosial yang tengah berlangsung.

“Menanamkan kesadaran belajar ke anak jalanan itu susah, namun ada beberapa juga yang cerdas” kata  Shefti Latiefah, pelopor Savestreetchild.

Shefti menjelaskan bahwa tidak semua anak jalanan bisa berkelakuan manis karena terbiasa dengan hidup di jalanan. Mereka cenderung tidak mau dikekang, berpikiran bebas dan terkadang lebih memilih kembali hidup di jalanan jika mengalami kesulitan dalam belajar atau beradaptasi.

Wanita yang saat ini masih menjalani semester akhir di Universitas Paramadina berharap ke depannya, Savestreetchild memiliki koperasi yang dapat memfasilitasi anak jalanan untuk membuka usaha sendiri.

Selain rutin mengadakan acara setiap bulan, Savestreetchild juga memiliki rumah belajar sebagai tempat persinggahan bagi para anak jalanan yang mau menimba ilmu.

Kamu bisa mendaftarkan diri menjadi relawan pengajar atau kakak asuh saat dibutuhkan dalam mendukung acara yang diselenggarakan oleh Savestreetchild. Bersedia meluangkan sedikit waktu?

Koleksi Produk Lainnya :

 
Copyright © 2014. BukaBaju Template - Design: Gusti Adnyana